Suatu ketika Ummi Salamah ra berkata: Ketika saya dengan Maimunah ada di
sisi Rasulullah SAW tiba-tiba masuk ketempat kami Abdullah bin Ummi
Maktum, kejadian itu sesudah ayat hijab yang diperintahkan kepada kami.
Rasulullah bersabda: "Berhijablah kamu daripadanya".
Kami menjawab, "Ya Rasulullah bukankah ia seorang yang buta tidak melihat dan tidak
mengenal kepada kami?" Kemudian beliau menjawab, "Apakah kamu juga buta, tidakkah kamu melihat padanya?". Dalam kisah lain disebutkan pula bahwa Rasulullah SAW pernah
menggerakkan tangannya untuk memalingkan wajah Al-Fadhl, ketika sahabatnya
itu ketahuan tengah memandang seorang wanita asing dengan sengaja.
Dari kedua kisah ini kita mendapati bahwa Rasulullah adalah orang yang
sangat menjaga pandangannya. la amat berhati-hati dalam memandang sesuatu,
terutama yang berkaitan dengan memandang seseorang yang bukan muhrim kita.
Semua ini, tidak lain, menunjukkan ketaatan beliau atas perintah Allah
seperti yang tercantum dalam Alquran, Katakanlah kepada orang laki-laki
yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara
kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka.
"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: 'Hendaklah mereka menahan
pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih
suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka
perbuat'." (QS. An-Nuur:30). Dalam ayat selanjutnya Allah SWT memerintahkan pula hal
yang sama pada kaum perempuan. Amat banyak hikmah yang dapat kita ambil
dari menjaga pandangan itu.
Salah satunya adalah menjaga diri dari perilaku tercela. Sesungguhnya,
mata kita adalah gerbang maksiat. Siapa saja yang kurang mampu menjaga
pandangannya dari sesuatu yang diharamkan, maka sedikit demi sedikit ia
akan terjerumus ke dalam jerat syetan. Berawal dari mata, kemudian kaki
berpindah ingin mendekat dan seterusnya, hingga akhirnya sangat mungkin
akan menjerumuskan manusia pada perzinahan.
Zina adalah dosa besar, yang bukan hanya dimurkai Allah, namun akibatnya
pun akan dirasakan sang pelaku dan orang-orang di sekitarnya selama di
dunia. Penyakit AIDS yang akan membunuh seseorang secara pelan-pelan dalam
kelemahan dan keterasingan, hanyalah salah satu akibat dari perbuatan keji
ini.
Menjaga pandangan bukanlah hal yang mudah dilakukan apalagi bagi kita yang
hidup di zaman modern seperti ini. Lihatlah ke samping kiri, kanan, depan
dan belakang kita, lawan jenis senantiasa mengelilingi? Tidak hanya di
pusat-pusat keramaian, di dalam mobil angkutan umum saja, campur baur
dengan lawan jenis pun tak dapat dihindarkan. Bahkan ketika berdiam
dirumah saja, menahan pandangan tidak kalah susahnya. Koran, majalah dan
televisi menyuguhkan pemandangan yang dapat membuat hati tergelincir
karenanya.
Tak heran, ibadah kita sering berantakan. Bacaan Alquran kita kering
kerontang. Berdoa pun sulit sekali khusyu apalagi sampai dapat
mengeluarkan air mata penyesalan karena tidak mentaati perintah-Nya.
Karena hal ini pula, menuntut ilmu menjadi sebuah pendakian yang sangat
terjal.
Mendapatkannya sungguh sulit nyaris tiada terperi, sedangkan hilangnya
menjadi sangat mudah sekali. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan
seorang alim pada muridnya, "Wahai anakku, sesungguhnya ilmu itu adalah
cahaya. Ia tidak akan mau masuk ke dalam hati yang di dalamnya kotor oleh
maksiat".
Pandangan liar, tidak bisa tidak, akan mengikis kualitas iman yang tumbuh
dalam hati seseorang. Iman itu tidak hilang dengan tiba-tiba dan serentak,
namun periahan-lahan dan sedikit demi sedikit. Pada kenyataannya pandangan
terhadap lawan jenis yang tak halal, menjadi media paling efektif untuk
menghilangkan keimanan dari dalam diri.
Ia adalah salah satu senjata syetan yang sangat ampuh. Firman Allah, "yang dilaknati Allah dan syaitan itu mengatakan, 'Saya benar-benar akan
mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan untuk
saya'." (QS. An-Nisaa:118)
Artinya, sebagaimana sebuah riwayat menuturkan bahwa pandangan adalah
panah-panah syetan, sedang syetan itu tak menginginkan apapun dari manusia
selain keburukan dan kebinasaan. Maka penjagaan kita terhadap pandangan
mata menjadi satu kunci pokok menuju keselamatan.
Bila saat ini, ketika tak ada tangan Rasulullah yang dapat memalingkan
wajah kita dari memandang perempuan, manakala tiada teguran dari mulut
suci beliau yang menyuruh para wanita berhijab dari melihat lelaki yang
bukan haknya untuk dilihat, maka mengingat sabda-sabda Rasulullah SAW yang
masih terpelihara ini menjadi satu keniscayaan.
Memang, dalam kondisi tertentu kita diperbolehkan memandang lawan jenis,
seperti dalam proses belajar mengajar, jual beli, pengobatan, maupun
persaksian. Walaupun demikian, taburilah selalu hati kita dengan firman
Allah yang menjanjikan kemuliaan dan derajat yang tinggi bagi orang-orang
yang mampu menjaga diri dari hal yang diharamkan-Nya.
Alhasil andaipun pada awalnya hal ini amat sulit kita lakukan, namun
yakinlah bahwa barangsiapa yang bersungguh-sungguh ingin menempuh jalan
Allah, maka Allah akan lebih bersungguh-sungguh lagi membimbing jalannya.
Sebagaimana firman-Allah, "Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan
pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran )
mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu
dayakan." (QS. An-Nahl:127)
"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan berbuat
kebaikan." (QS. An-Nahl:128)
Akhir kata, pandangan yang terjaga dengan baik, insya Allah akan membuat
seseorang dapat merasakan manisnya iman dan lezatnya mengingat Allah.
Wallahu'alam Bishshawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar